RSS

Hibah F-16 AS : Antara “Rongsok” dan Supremasi Udara TNI-AU

13 Jan

Beberapa waktu yang lalu ramai dibicarakan mengenai hibah berikut up-grade (peningkatan kemampuan) sebanyak 24 unit F-16 bekas pakai Garda Nasional Udara AS (US-ANG) dan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) oleh TNI-AU senilai kurang lebih $ 570.000.000 (sekitar Rp 6.7 trilyun) untuk menambah jumlah armadanya sekaligus menambal ruang udara nusantara yang sampai saat ini belum terjaga oleh TNI-AU secara optimal.

File:US Air National Guard F-16s over Kunsan, ROK.jpg

Formasi 3 pesawat F-16 milik National Guard terbang diatas Gunsan, Korea Selatan. 3 pesawat tersebut berasal dari markas Garda Nasional Udara AS di New Mexico, Colorado dan Montana.

Beberapa pertanyaan dan pernyataan yang sering terlontar ialah “bukankah TNI-AU sudah memiliki skadron Sukhoi?”, “buat apa beli barang rongsokan seperti itu? lebih baik dana tersebut dipakai saja untuk membangun sekolah”, “kenapa musti ambil barang bekas?”, “lebih baik beli pesawat baru dari pada beli rongsokan”, dan sebagainya. Tapi, benarkah pesawat tersebut adalah “barang rongsokan” seperti yang beberapa orang sampaikan ?

F-16 tersebut adalah bekas pakai dan rongsok, sehingga kualitasnya sama seperti sampah di Pengepul barang bekas

Pesawat bekas? memang, barang rongsokan? jelas bukan. Pesawat tersebut memang merupakan pesawat bekas pakai oleh National Guard AS dan Angkatan Udara AS yang disimpan di AMARG atau dikenal sebagai Aerospace Maintenance and Regeneration Group, sebuah lokasi khusus di gurun Tucson, Arizona yang digunakan oleh Angkatan Bersenjata AS untuk menyimpan pesawat dan helikoptes surplus yang tidak dapat digunakan sepenuhnya dikarenakan kurangnya personel atau sebab lain seperti untuk unit cadangan jikalau ada sesuatu hal yang melibatkan kepentingan AS. Disana, airframe (body pesawat) tersebut disimpan dan telah dilapisi bahan polimer khusus guna mencegah korosi akibat iklim.

Bukankah kita sudah memiliki Sukhoi dan juga skadron F-16 ?

Ya, TNI AU memang memiliki skadron F-16 juga skadron Sukhoi Su-27 dan Su-30. Namun harap diingat jumlah F-16 A/B Block-15 OCU yang TNI-AU miliki jumlahnya tidak seberapa untuk memantau ruang udara NKRI, meskipun memiliki skadron Su-27 dan Su-30 penggunaan dua jenis pesawat tersebut kurang cocok mengingat biaya operasional Sukhoi sebagai pesawat tempur berat (Heavy Fighter) lebih mahal dibanding biaya operasional F-5 Tiger dan F-16 A/B TNI-AU yang diklasifikasi sebagai pesawat tempur ringan (Light Fighter).

selain itu pun, TNI-AU menginginkan penambahan unit F-16 tersebut untuk menggantikan skadron F-5 Tiger yang telah memasuki usia senja juga merampingkan kualifikasi alutsista yang juga demi alasan efisiensi biaya.

Walaupun begitu tetap saja pesawat tersebut adalah barang bekas dan juga mahal.

Yang banyak orang yang tidak ketahui ialah biaya tersebut merupakan biaya pemutakhiran 24 unit pesawat F-16 C/D Block-25 menjadi Block-52 juga biaya pemutakhiran skadron F-16 A/B Block-15 OCU yang TNI-AU miliki menjadi Block-32. Selain itu juga meliputi penggantian sistem peluncuran senjata, penggantian mesin baru juga unit radar pesawat yang lebih canggih. Semua itu ditukar dengan biaya sejumlah Rp 6.7 Trilyun rupiah atau USD $ 570.000.000,-

Opsi pembelian pesawat baru pun telah diperhitungkan secara teliti oleh pihak TNI-AU, tetapi yang bisa didapatkan dengan jumlah uang yang sama hanyalah 6 unit pesawat F-16 C/D Block-52 baru (tipe unit pesawat yang DPR inginkan). Besar sekali perbedaan dari segi selisih harga dan jumlah pesawat yang bisa dimiliki oleh TNI-AU, dan pembelian unit baru tersebut juga belum jelas apakah termasuk biaya pembelian amunisi dan rudal sebagai senjata F-16 tersebut.

Tapi bukankan lebih baik pemerintah fokus kepada hal kesejahteraan rakyat semisal pembangunan rumah sakit atau gedung sekolah baru ? Sepertinya hal ini pun masih sangat memberatkan.

Dana yang dikeluarkan untuk “pembelian” pesawat F-16 ini sama sekali TIDAK mengganggu biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur negara, pembayaran untuk reparasi F-16 hibah ini menggunakan modal dari pinjaman kredit impor senjata yang diberikan oleh Rusia kepada Indonesia beberapa tahun yang lalu dan sama sekali belum pernah dibelanjakan untuk pembelian alutsista baru sejak awal tahun 2011 lalu, termasuk diantaranya TNI-AL pun akan membeli 3 unit kapal selam kelas Chang Bogo buatan DSME, Korea Selatan untuk menambah armada kapal selam TNI-AL yang telah mengoperasikan kapal selam U209/1300 buatan Jerman Barat.

Baik, Saya sedikit mulai tercerahkan mengenai pesawat tersebut… Tapi tolong yakinkan saya kalau pesawat tersebut bukan unit asal “comot”.

Jangan kuatir, TNI-AU pun juga berhati-hati dalam pemilihan unit tersebut, berhubung jumlah unit F-16 dan pesawat lain yang diparkir di lahan AMARG bisa mencapai ribuan unit juga pengoperasian dan perawatan pesawat tersebut adalah merupakan tanggung jawab TNI-AU terhadap negara dan prajuritnya (termasuk pilot dan awak pendukung).

jenis pemutakhiran untuk pesawat tersebut pun juga banyak seperti program FALCON UP, SLEP, FALCON STAR dan lain-lain sehingga pesawat bekas pakai pun mempunyai kondisi prima bak pesawat yang baru keluar dari jalur produksi di pabrik pembuatnya.

File:F16b15slep.jpg

Ilustrasi titik perbaikan dan pemutakhiran dari program SLEP untuk F-16 Block-15

Untuk merangkum keseluruhan garis besarnya secara kasar, Indonesia diberikan sejumlah pesawat tempur tanpa perlu membayar kepada AS alias gratis, tetapi hibah tersebut harus dari pihak Indonesia sendiri yang mengambilnya ke “gudang” atas biaya sendiri, TNI-AU setuju untuk mengambil dan melakukan regenerasi pada 24 unit F-16 C/D Block 25. Setelah tim dari TNI-AU berkunjung ke AMARG, diputuskan pesawat tersebut akan direparasi dengan seluruh biaya ditanggung oleh Indonesia termasuk reparasi beberapa pesawat sama yang telah Indonesia miliki dengan komposisi keseluruhan armada F-16 disetarakan menjadi F-16 Block-32. DPR ternyata tidak setuju dan masih menuntut kelas pesawat yang lebih canggih dari tawaran hibah. Melalui perundingan antara TNI-AU dan DepHan diputuskan bahwa 24 unit pesawat hibah tersebut akan dimutakhirkan menjadi F-16 C/D Block 52 dan juga keputusan untuk memutakhirkan skadron F-16 Block 15 OCU milik TNI-AU menjadi Block 32.

Penulis kembalikan pertanyaan kepada para pembaca, dengan tawaran menggiurkan seperti itu masihkah pantas berkata “pembelian” pesawat tersebut merupakan pemborosan jikalau melihat urgensi penambahan dan pemutakhiran alutsista milik TNI-AU juga melihat kondisi riil ruang udara NKRI yang belum terpantau secara optimal ?

Kredit foto :

Wikipedia & Scramble

Artikel Pendukung :

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Januari 2012 in Air Force, ALUTSISTA, Selayang Pandang

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: