RSS

Profil Kapal Selam U206, Hampir Menjadi Inventaris TNI-AL

17 Jan

Selama 52 tahun pengabdiannya, Korps Hiu Kencana TNI-AL pada dekade 90-an hampir mengulang reputasi sebagai operator kapal selam dengan jumlah terbesar di asia tenggara. Hal itu diwujudkan melalui rencana pembelian 6 unit kapal selam bekas Tipe 206 (U206) milik angkatan laut Jerman*. Puncak keemasannya terjadi pada era Orde Lama di masa kepemimpinan Presiden Soekarno, Korps Hiu Kencana memiliki 12 unit kapal selam diesel-elektrik kelas Whiskey buatan Uni Soviet sebelum akhirnya digantikan oleh 2 unit kapal selam Tipe 209/1300 (Cakra 401 dan Nanggala 402) buatan Jerman di era Orde Baru. Berikut profil sekilas dari kapal selam tersebut yang dikutip dan disunting oleh penulis dari situs Wikipedia dan sumber lainnya.

Gambar 3 sudut kapal selam Tipe 206 (U206) buatan Jerman Barat. Kredit foto : Martworkshop.com

Pengenalan

Kapal Selam Tipe 206 adalah salah satu jenis kapal selam diesel-elektrik (U-boats) yang dikembangkan oleh Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW). Kapal selam yang memiliki ukuran kecil nan lincah ini diproduksi pada masa Perang Dingin agar mampu beroperasi di Laut Baltik yang dangkal dan untuk menyerang kapal milik negara anggota Pakta Warsawa jika kondisi pada masa tersebut semakin gawat (U206 termasuk salah satu kapal selam diesel-elektrik terkecil pada masanya). Selanjutnya lambung bertekanan pada kapal selam dibuat dari baja non-magnetik (anti magnet) untuk menangkal ancaman ranjau laut magnetik dan membuatnya semakin sulit untuk dideteksi oleh sensor MAD. Karena profilnya yang kecil inilah yang membuatnya mudah untuk menyelinap kedalam formasi armada kapal musuh yang terjaga ketat oleh “jaring” pengaman anti kapal selam.

File:Uss enterprise viewed by U24.jpg

Kapal induk bertenaga nuklir milik AS, USS Enterprise (CVN-65); terlihat dari pantauan periskop U24 (Type 206 - S173) milik Angkatan Laut Jerman pada suatu latihan perang di perairan Karibia

Sejarah Pengembangan

Kapal selam Tipe 206 (U206) merupakan pengembangan dari Tipe 205 yang telah melengkapi alutsista Bundesmarine (Angkatan Laut Jerman Barat) melanjutkan pengabdian dari U201; kapal selam Jerman Barat pertama yang diproduksi setelah Perang Dunia II berakhir. Dari 18 unit U206 yang dimiliki Bundesmarine, 12 unit diantaranya ditingkatkan kemampuannya pada awal dekade 90-an setelah pecahnya Uni Soviet dan diberi designasi jenis U206A; sedangkan unit sisanya dipensiunkan dan 5 unit diantaranya pernah ditawarkan ke Indonesia semasa Orde Baru untuk menemani 2 unit U209/1300 (U206 versi ekspor) menjaga perairan nusantara. Sayang niat tersebut dibatalkan akibat krisis ekonomi yang melanda negeri ini.

File:U18 S178 6 (dark1).jpg

U18 - S178 (Type 206), 1998

Kini, seluruh kapal U206 yang masih dimiliki Angkatan Laut Jerman (Deutsche Marine) telah dipensiunkan dan digantikan oleh kapal selam diesel-elektrik Tipe 212 (U212) yang dilengkapi dengan teknologi Air-Independent Propulsion (AIP) untuk membuatnya mampu menyelam lebih lama dibanding kapal selam diesel-elektrik biasa.

Salah satu varian U206 yang ialah kapal selam kelas Gal (terj. wave = ombak) milik Angkatan Laut Israel yang dirakit oleh galangan kapal Vickers, Inggris dengan menggunakan nama Vickers Type 540; tidak dibuat oleh HDW dikarenakan suatu alasan politik. Hanya tiga unit Gal yang diproduksi dan dioperasikan untuk pertama kalinya oleh AL Israel pada tahun 1976. Gal mulai dipensiunkan secara bertahap oleh AL Israel pada tahun 1999 setelah penggantinya mulai beroperasi, yaitu kelas Dolphin. Tidak lain merupakan modifikasi khusus dari kapal selam Tipe 209 namun tidak diproduksi untuk pengguna selain untuk Angkatan Laut Israel. Kelas Dolphin sendiri ditengarai sebagai satu-satunya alutista termahal dalam daftar inventaris AL Israel dan satu-satunya kapal selam diesel-elektrik yang diyakini telah dipersenjatai dengan rudal nuklir.

File:HN-INS-Gal-2.jpg

INS Gal (Wave), Naval Museum - Haifa, Israel

General characteristics
Type: Type 206A submarine
Displacement: 450 t, surfaced;
498 t, submerged
Length: 48.6 m
Beam: 4.6 m
Draft: 4.5 m
Propulsion: 2 MTU 12V 493, 4-stroke 600 hp (441 kW) diesel engines, each coupled with an Asea Brown Boveri-generator
1 Siemens-Schuckert-Werke 1100 kW electric motor driving single five (Type 206) or seven (Type 206A) blade propeller
Speed: 10 knots (19 km/h), surfaced;
17 knots (31 km/h), submerged
Range: 4,500 nmi at 5 knots, surfaced;
(8,300 km at 9 km/h)
228 nmi at 4 knots, submerged
(420 km at 7 km/h)
Test depth: more than 200 m
Complement: 23
Sensors and
processing systems:
STN Atlas DBQS-21 (CSU-83) submarine sonar
Thomson-CSF DUUX 2 passive rangefinder sonar
Safare VELOX sonar intercept
EDO-900 active mine avoidance sonar
Thomson-CSF Calypso II surveillance and navigation radar
Electronic warfare
and decoys:
Thomson-CSF DR-2000U ESM system
Thorn-EMI SARIE
Armament: 8 × 533 mm torpedo tubes,
8 DM2A1 Seeaal (206) or DM2A3Seehecht (206A) torpedoes;
24 mines can be carried externally

*Catatan : Berdasarkan buku Jane’s Warship Recognition Guide – Fully Updated 2nd Edition; TNI-AL pernah memesan 5 unit Type 206 dengan Nama (Pennant Number) : KRI Nagarangsang (ex-U 13)(403), KRI Nagabanda (ex-U 14)(404), KRI Bramastra (ex-U 19)(405), KRI Cundamanik (ex-U 21)(406) dan KRI Alugoro (ex-U 20)(407). Pemesanan tersebut juga termasuk 34 kapal perang permukaan bekas Jerman Timur lainnya dari berbagai jenis. Tetapi karena krisis ekonomi yang melanda Indonesia, transfer tersebut tidak dapat dilanjutkan/dibatalkan.

Sumber : 

Kredit Foto :

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Januari 2012 in Navy, Selayang Pandang

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: